Senin, 11 Agustus 2008

Obrolan di Warung Kopi


Mula-mula kami hanya berbincang soal ketidakberdayaan manusia akibat ulah manusia yang lain. Pembicaraan tengah hari boong itu santai. Sambil minum kopi, es jus instan, dan merokok. Itu biasa saya lakukan dengan beberapa kawan untuk sekedar menghabiskan siang, sebelum kami sama-sama berbaris dan berdoa saat apel sore.


Pembicaraa kemudian berkembang ke dalam lingkup kerja kantor. Dimulai dari seringnya terjadi kasus pelanggaran jam masuk (dengan berbagai alasan yang sama sekali tidak rasional), sistematika kerja yang tak terstandart (menuruti kata hati sendiri-sendiri karena merasa lebih wahid dan lebih punya hak), kebijakan-kebijakan yang kurang bertaring, hingga soal penghonoran (yang semua beranggapan dirinya lebih bekerja berat dari yang lain dan paling berjasa atas kerjanya sehingga layak menerima amplop yang lebih tebal ketimbang yang lain).

Karena makin gayeng, masing-masing dari kami akhirnya terpaksa serius ingin menelusuri akar masalah dari semua itu. Masing-masing mengeluarkan jurus-jurus argumentasi. Yang maqom-nya sudah agak kekasi-kasian mengutif dalil-dalil kepegawaian, bahkan ayat-ayat Tupoksipun diutarakan sehingga terlihat seperti berwibawa dan berwawasan linuwih. Yang maqom-nya masih “arek wingi sore” tak kalah lantang mengumandangkan logika-logika berfikir yang tambah membingungkan. Pada obrolan sesi terakhir, yang Sarana, yang Jiran, yang TU, yang Produksi sama-sama bingung. Disedunya kopi dan es jus instan. Dihisapnya batang-batang rokok yang mulai memendek itu dalam-dalam. Sorot mata kami secara bebarengan dialihkan ke sosok yang langsing semampai, rambut kemerah-merahan, kulit halus mulus, dan paras cuantik yang kebetulan melintas. Dam tanpa berani mengeluarkan kata-kata. Seorang dari kami berucap dengan nada penuh memelas, mengirungi tenggelamnya sosok pandang kami. “ Kamu sih masih enak bisa ikut shotting terus. Dapat tambahan dana tiap bulan. Kalau seperti aku ini dapat tambahan apa?” sambil memandangi teman-teman dari produksi. Rupanya kawan yang satu ini dari TU seperti saya. “Kamu khan juga diajak shotting, kalaupun tidak khan masih dapat pemerataan”, seloroh teman dari Produksi.

Dengan tidak kalah ketus temanku temanku tadi berupaya menangkal selorohnya. “Betul…, diikutkan shotting hanya untuk pelipur saja khan! Belum tentuempat bulan sekali, tapi menjadi bahan obrolan di mana-mana setiap hari lagi.” Karena melihat itu sayapun ikut-ikutan nimbrung mengeluarkan kalimat yang dari tadi terkotak rapat. “Kalau menurutku itu bukan pemerataan tapi penghinaan, bagaimana tidak yang lain dapat ratusan ribu, kita-kita ditaburi ribuhan saja agar tak banyak bicara” ucapku yang aku buat-buat seperti candaan. “Gak ikut kerja kok minta banyak, lagian itu sesuai Tupoksi kita”. Lagi-lagi ayat-ayat tupoksi didendangkan.

Perdebatan menjadi tambah serius. Masing-masing kubu lagi-lagi beradu argumentasi. Saling merasa benar. Saling merasa Aku kok. Seorang Jira berupaya menengahi. Berusaha bersikap netral walau sebenarnya memihak. “Begini, zaman wis ngene ko masih mempermasalahkan Tupoksi. Kalau berbicara itu pasnya puluhan tahun yang lalu, tidak sekarang di”guyu” wong Jepang. Kapan majunya memperdebatkan itu terus. Memang kamu kerjanya shotting karena produksi, Jiran kerjanya ada, TU dikantor ada kerjaan, Sarana itu banyak alat yang rusak. Yang beda, kalua Produksi mengerjakan tupoksinya saja dapat bayaran apa lagi yang bukan tetapi yang lain tidak. Kalau honor berdasar kerja atau tidak, seharusnya kalau yang membuat daftar gaji dibayar, yang pergi-pergi ke KPPN itu dibayar, yang ngurus pegawai itu dibayar, yang membetulkan alat itu dibayar, atau lainnya. Ingat honor di luar gaji ini. Dan celakanya kasi-kasi kita kelihatannya tidak memikirkan bagaimana anak buahnya agar mendapat tambahan penghasilan di luar gaji seperti produksi. Wong tiap program dia dapat, meski terkait atau tidak terkait. Bahkan kalau merasa kecil dari yang lain saja dia protes minta ditambah. Obrolan di warung kopi itu tensinya meningkat. Semua mengajukan formula-formula. Mulai yang menggunakan prosen-prosenan sampai menyarankan cari tambahan di luar dengan sedikit menghalalkan korupsi waktu. Semua bertambah ngelantur, semua bertambah tak berarah. Dan puntung-puntung rokokpun bertambah berserakan. Gelas-gelas kosong bertambah berdekatan.

Obrolan di warung Kopi berakhir. Yang Jiran, yang Produksi, Yang TU, juga yang Sarana sama-sama bertambah bingung. Saking bingungnya ada yang akan menjadi sales saja, ada yang ingin ke habitatnya di depan siswa, ada yang berharap terkena rolling, bahkan ada yang ingin jadi Satpam saja. Secara tak sadar mereka menyimpulkan sendiri-sendiri pemerataan di luar gaji yang selalu didengungkan: belum jalan seperti angan-angan. Dan dari mereka-mereka mulai mencari harapan sendiri dengan cara sendiri-sendiri.

Dari:
EP (orang ngelantur agar tidak tambah ngelantur)
[Continue Reading]
Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger TemplatesPublished.. Blogger Templates